POPULAR FILE THIS WEEK

Pastinya Kita Memang Telah Mengabaikan Hak Atas Kekayaan Intelektual, Mempertukarkan Segala Sesuatu Tanpa Memperhatikan Hak Pembuat Software. Sederhananya, Saya Beranggapan Semua Orang Harus Mendapatkan Pengalaman Terbaiknya Dalam Menggunakan Tekhnologi Komputer dan Internet. Celakanya, Kita Memang Menginginkan Itu Semua Serba Gratis, Maka Muncullah Blog Ini. segala sesuatu semua yang ditampilkan disini merupakan miror dari para pendahulunya. adanya gratisan pasti karena ada yang tidak gratisnya. begitu pun blog ini semua yang ada dijadikan gratis biar semua orang tahu perkembangan internet sampai dimana.

cerpen : Dan Sepotong Surga Untukku


Wajarkah ketika semilir angin tak lagi terasa, ketika sore tak lagi mampu menghangatkan raga ?. Aku terbaring tak berdaya dipersimpangan entah itu antara hidup, mati sadar ataupun tidak. Masih terdengar isak tangis istriku dalam lantunan ayat suci yang dibacakanya, ingin sekali aku menghapus gurat sedih diwajahnya, namun tangan ini, raga ini seolah tak berdaya melawan kehendak takdir akan kesakitanku ini.

Dalam keadaan yang sangat sulit aku mencoba bertahan untuk sadar, setidaknya untuk berbicara denganya, istriku sekalipun ini untuk yang terakhir kalinya, namun sungguh aku tak mampu melakukanya aku hanya mampu memandangnya dalam kesemuar, nanar semuanya bagiku.

Tuhan, andaipun saat ini kau ambil nyawaku, aku rela Ya Rabb... walaupun sesak dadaku tanpa surga kecil yang kau percayakan padaku, surga kecil yang kelak bisa menyelamatkanku dari dosa ini. Aku sadar betul. Mungkin inilah laknat yang harus kutanggung atas penghianatanku, tapi sungguh Ya Rabb... tak terbesit sedikitpun dalam benakku untuk melakukanya.
Aku masih melihat dengan samara wajah istriku dan belaianya dikeningku, hangat, ada kelembutan tersembunyi dalam tiap belay tanganya.

Ia berbisik di telingaku.
“Mas ryan harus kuat, aku di sini menunggumu.”
“Ayah …. Kami menyayangimu” bisik ketiga anakku.
Satu dekade bahtera rumah tangga telah ku bina, walaupun pernikahan kami terhitung dalam usia dii, namun kami sudah mampu menyingkapnya secara dewasa, mungkin tak banyak orang yang tau bahwasanya teramat bahagia aku mendapat pendamping hidup yang soleh, rajin melantunkan ayat suci dan amat penyayang.
Ya seharusnya aku menyadari itu lebih awal, agar tak kusia-siakan hidupku denganya.
Ketika itu Yasmin meberikanku seorang bayi lelaki kecil yang sangat tampan, bunga kecil itu kami beri nama Rifki. Yasmin begitu menyayangi buah hati kami, di mataku dia adalah sosok seorang ibu yang sempurna. Tiap waktu ia habiskan untuk mencurahkan kasih sayangnya kepada Rifki anak tunggalku tercinta.
Kebahagiaan kami sempurna layaknya matahari sore sempurna tanpa awan, hangat, menyinari bumi dengan penuh kelembutan tanpa cacat. Namun tak dinyana bagaikan gemuruh yang bergulung di tengah laut badaipun tiba menerpa hidup kami.
Ironis bahtera yang sekian lama ku jaga, goyah karena satu badai kehidupan yang amat dahsyat. Aku tak pernah berbuat, sungguh aku tak pernah berbuat hal senista itu. Demi kau Yasmin demi ibuku tak pernah kuperbuat hal itu. Tapi apa mau dikata fitrah itu begitu bertubi-tubi dating padaku. Sinting ! aku difitnah menodai sahabatku sendiri Rani, padahal justru aku yang mnyelamatkannya dari kenistaan itu.
“Sungguh Pak, bukan saya yang melakukan perbuatan itu justru saya hendak menolongnya dari Imron, biadab orang itu …” teriaku pada pak Kades.
“saya mengerti nak Ryan, naamun apa mau dikata ? banyak saksi bahwa nak ryan lah yang sesungguhnya hendak menodai Rani, maaf nak Ryan ini adalah tuntutan warga, nak Ryan harus menikahi Rani jika tidak nak Ryan akan terpaksa kami serahkan pada aparat yang berwenang!” timbalnya.
“saya tidak mengerti kenapa saya yang tidak bersalah justru harus menanggung akibatnya? Imron Pak, sungguh dia yang bersalah. Bapak tahukan saya sudah mempunyai anak dan istri bagaimana mungkin saya menghianati mereka??” aku terus berusaha meyakinkan Pak Kades.
“maafkan saya Nak Ryan kita berada dalam posisi yang lemah. Nak Ryan tahukan Imron adalah orang yang sangat berpengaruh di kampong ini, saya tidak bisa melakukan apa” Nak, maafkan saya…….” Pak Kades keluar setelah mengatakan hal itu.
Sungguh terasa akhir bagi duniaku, aku tak tau harus melakukan apa dan bagaimana, Yasmin begitu terpukul mendengar berita itu ia tak percaya aku bisa menghianati kepercayaannya, kucoba untuk menjelaskan padanya bahwasannya semua itu adalah perbuatan Imron dia bagaikan serigala berliur yang melihat aku sebagai mangsanya, menangkapku, mengoyak tubuhku dan setelah puas ia ludahi kehidupanku.
Jiwa Yasmin terlalu rapuh untuk bisa menerima cobaan ini walaupun hanya sebatas fitnah, ia tiada, wanita serapuh itu diambil jiwanya ketika dalam pelukanku, sungguh ini adalah sangkakala tanda kiamat bagi hidupku. Ratu dalam singgasanaku, cahaya bagi belahan jiwaku hilang dari rasi perputaran semesta hanya raganya yang lekat dalam pelukanku saat ini. Aku menangis berteriak, alam pun terguncang atas kepergian kekasih hatiku.
Tak alam setelah kepergiannya Rifki, surga kecilku pun menyusulnya seolah-olah tak mau berlama-lama berpisah dengan ibunya, hanya berselang beberapa hari setelah kepergian istriku anaku pun tiada, kini hanya aku yang tertinggal, adilkah itu? Aku rindu pada Yasmin, Rifki anak dan istriku. Sehari berpisah dengan mereka tak bisa bernafas aku dibuatnya
Aku tersiksa
Aku terhempas
Aku diluluh lantahkan tangan nasib.
-##-

Tujuh tahun sudah berlalu sejak kematian istriku dan anaku kini aku beristrikn Rani, sesuai dengan tuntutan warga yang termakan oleh bualam Imron yang menjebaku. Awalnya jijik aku beristrikan Rani tak pernah satu katapun keluar untuknya, kami hidup dalam bisu untuk beberapa waktu. Namun besar pengabdiannya padaku meski telah jatuh sikap dinginku padanya mengubah segalanya, kini dengan ikhlas ku terima Rani apa adanya bagiku ia hanyalah Anyelir yang terenggut serta layu kecantikannya oleh orang yang salah. Rani tak bersalah! Keyakinan itulah yang menguatkanku untuk dapat menerimanya.
Bertahun-tahun telah kuhabiskan waktuku dengannya, kami terutama aku begitu merindukan kehadiran seorang buah hati yang mampu mengisi kekosongan di relung jiwa dan memberi seberkas kehangatan dalam keluarga, namun semua itu tak kunjung tiba. Sungguh aku takut, takut semua ini adalah laknat dari Sang Kholik atas perbuatanku terhadap anak dan istriku yang terdahulu. Ampuni aku ya Rabb.. semoga ini hanya sebatas cobaan bagiku.
Setelah lama menunggu rani dan aku memutuskan untuk mengambil 3 anak yang tak berbapak tak jua beribu. Yang satu berusia 2 tahun kami bernama firdaus yang kedua Salsabila 4 tahun dan si sulung Lukman 9 tahun. Kami rawat dan besarkan ke-3 buah hati kami itu dengan penuh kasih saying selayaknya kepada anak sendiri. Mereka tumbuh begitu cepat mengisi hari-hari kami dengan senyuman dan derap kebahagiaan.
Lengkap sudah hidupku walaupun jujur jauh dilubuk hatiku aku masih mengharapkan Tuhan memberikan kami surga kecil. Namun taka pa kucoba untuk ikhlas menerimanya.
Dan sore itu, ketika usiaku beranjak tua, penglihatanku tiba-tiba nanar, dadaku terasa sakit, sakit yang amat tak tertahankan. Mungkinkah ini jantungku? Mungkinkah rasa sakit ini berasal dari jantungku?.
Maka ketiga anaku juga istriku berkumpul. Aku bahagia ya Tuhan, kalaupun saat kau ambil jiwaku, aku rela, dan ketika hilang, habis kesadaranku, akupun terpisah dari raga. Masih terngiang dan terlukis wajah anak dan istri melepas kepergianku.
Dan…… matahari senjapun mengantarkanku ke peristirahatan terakhir……
Tangis orang yang kucintai menjadi pengiring dalam kepergianku…
Do’a mereka menjadi cahaya bagiku.
 

My Blog Top List

Followers

blog simpanan Copyright © 2009 Gadget Blog is Designed by Ipietoon Sponsored by Online Business Journal